30 April 2013

Opini: Bahasa Ibu, Bahasa yang Mencerdaskan Bangsa


Oleh : Latif Agus Santoso

            Hakikat bahasa adalah alat komunikasi di satu sisi dan pada satu sisi yang lain sebagai alat berfikir. Untuk itu, peran bahasa Indonesia dalam percaturan keilmuan di Indonesia memiliki posisi yang strategis. Artinya, kecermatan berbahasa akan mencerminkan intelektualitas seseorang (Sutejo; 2009).
            Bahasa menjadi ciri identitas suatu bangsa. Melalui bahasa, orang dapat mengidentifikasi kelompok masyarakat, bahkan dapat mengenali sifat dan kepribadian masyarakat penuturnya. Oleh sebab itu, masalah kebahasaan tidak lepas dari masyarakat penuturnya. Dalam hubungan dengan masyarakat Bahasa Indonesia, telah terjadi perubahan, terutama yang berkaitan dengan tatanan baru kehidupan dunia, perkembangan ilmu pengetahuan serta ilmu teknologi, khususnya teknologi informasi yang di tahun-tahun belakangan ini berkembang pesat di masyarakat dunia.
Hal ini tentu saja menempatkan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa utama yang digunakan dalam perkembangan teknologi tersebut. Bahasa yang memiliki posisi strategis untuk dapat mempengaruhi sendi kehidupan berbahasa pada masyarakat. Gejala munculnya penggunaan bahasa asing dalam acara resmi, poster di sepanjang jalan, serta produk-produk dalam negeri yang menggunakan bahasa asing sebagai merek dagangnya.
            Tersingkirnya bahasa ibu dalam kebahasaan masyarakat, dapat menjadi sebuah tolok ukur dimana kemerosotan nilai Bahasa Indonesia dalam lingkup Bangsa Indonesia itu sendiri. Hal ini menjadikan Balai Bahasa sebagai motor penggerak kehidupan berbahasa bangsa Indonesia merasa harus mengambil peran dalam mereformasi kebahasaan masyarakat Indonesia yang kian hari kian menurun dalam pemahaman serta penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Banyak hal dapat menjadi cermin bangsa kita untuk melihat sejauh mana kemerosotan bahasa Indonesia.
Pengaturan pendidikan yang carut-marut dinilai sebagai faktor utama dalam merosotnya nilai berbahasa Indonesia. Sekolah lebih menekankan mahir berbahasa asing dalam penerapan kurikulumnya, sehingga  sebagai tumbal dihilangkannya mata pelajaran Bahasa Daerah pada tingkat pendidikan yang masih dini. Padahal dalam hal ini penggunaan bahasa ibu adalah sebagai tonggak utama dimana untuk ketercapaian negara yang maju adalah negara yang mampu menjaga dan menghidupkan bahasa ibu dalam penerapan sehari-hari.
Kemudian penggunaan bahasa asing khususnya bahasa Inggris yang menjadi bahasa utama yang digunakan oleh produsen makanan untuk meningkatkan omset penjualannya dinilai juga dapat menurunkan tingkat kecintaan kita kepada bahasa Indonesia. Orang tua dan guru lebih senang serta menganggap muritnya pandai jika sudah lancar menggunakan bahasa inggris dan bahasa asing lainnya, padahal pemahaman tentang bahasa ibu mereka adalah Nol persen. Hilangnya moral bangsa juga dapat diambil garis lurus dari hilangnya pengetahuan berbahasa yang benar dikalang masyarakat Indonesia itu sendiri. Lihatlah disekeliling anda, berapa persen anak muda yang mampu menggunakan bahasa ibu mereka dengan baik dan benar dalam penerapannya.
            Oleh karena itu kita selaku warga Indonesia, sudah seharusnya tahu dan bisa menggunakan bahasa yang baik dan benar. Banyak sekali penelelitian yang dilakukan oleh Balai Bahasa, bahwa kesimpulannya pembelajaran menggunakan Bahasa Ibu dapat berdampak besar dalam penerimaan siswa dalam menangkap serta memahami pelajaran yang guru sampaikan. Karena pembelajaran dengan menggunakan bahasa ibu dirasa memiliki kedekatan mental dan emosi antara pendidik dan peserta didik dalam penyampaian dan penerimaan pemahaman ilmu yang disampaikan.
Dengan demikian kita seharusnya dapat mengambil langkah yang benar dalam penggunaan bahasa yang baik dan benar. Serta seharusnya teman-teman sebagai pendidik lebih mengedepankan bahasa ibu, sebagai sarana mencerdaskan bangsa. Peran aktif pemerintah hanya sebagian kecil angan-angan tetapi peran serta masyarakat adalah penggerak utama keberhasilan cita-cita bangsa untuk menjadi bangsa yang besar, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang masyarakatnya mampu menggunakan bahasa ibu dengan baik dan benar.

LATIF AGUS SANTOSO
                Ketua Himpunan Mahasiswa Penulis (HMP) STKIP PGRI Ponorogo Tahun 2013.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar